Risalah Kegundahan Jiwa

Saya belajar sesuatu yang sangat menyakitkan hari ini, sesuatu yang sungguh akan merubah hidup saya selama 2 tahun ke depan. Hati sudah saya persiapkan memang tapi tetap saja perih terasa hingga menusuk dada. Rasanya ingin berteriak, meloncat, menangis, pokoknya semua kegilaan ingin sekali dilakukan.

6 bulan ini sungguh banyak kepedihan yg terjadi. Tembok iman dan pengharapan yang telah saya bangun sedari jaman putih abu – abu perlahan – lahan hancur, tak tahu ke mana. Yang tersisa hanyalah puing dan garis batas yang entah kapan dapat saya bangun kembali. Semua kenangan selama 6 bulan ini lengkap sudah dibumbuhi dengan pahitnya kenyataan hidup perkuliahan.

Saya benar – benar merindukan jiwa putih abu –abu saya. Jiwa yang tak lekang oleh terpaan ombak dan badai, jiwa yang berani menerjang melampaui batas diri. Jiwa yang dapat berrefleksi dari hari ke hari. Tanpa henti jiwa ini perlahan menemukan pengalaman dan falsafah hidup di dalamnya.

Kini jiwa itu telah rubuh seiring dengan binasanya tembok yang berdiri kekar menopangnya. Semua kekuatan batin, ketegaran hidup, keperkasaan jasmani lenyap ditelan 6 bulan yang penuh goncangan ini. Tak habis pikir, semua kebiadaban hidup pernah saya lalui, tapi goncangan ini yang harusnya tak lah seberapa malah dapat meluluhlantakkan tembok yang telah saya bangun bertahun – tahun.

Ada suatu pertanyaan besar yang harus saya jawab sekarang! Apa sebenarnya yang menjadi kegundahan saya selama ini? Masalah2 itu? Entahlah.. Harusnya masalah2 ini tidak menjadi kendala bagi saya karena dulu saya pernah juga mengalaminya; bahkan lebih sakit lagi dibandingkan sekarang. Apakah karena kebosanan akan kisah hidup yang tak pernah terbagikan dengan seseorang pun? Ataukah karena rasa ditinggalkan oleh orang – orang yang saya pikir adalah sahabat terbaik di dunia?

Mungkin semua kegundahan hati ini merupakan sebuah proses akumulasi yang telah terpendam begitu lama. Sebuah kesadaran hidup bahwa anak manusia tak akan bisa menjalani bahtera hidup seorang diri. Maksud saya pacar? Mungkin bukan! Dunia ini terlalu luas utk dibelenggu dalam suatu hubungan yang terorientasikan hanya pada 2 anak manusia, begitu pikirku sekarang (trims utk tulisan novia). Tak hanya harus tentang pacar tapi lebih pada persahabatan abadi. Mungkin itu sekarang yang menjadi kegundahan saya selama ini. Saya mulai berpikir skeptis bahwa tak ada persahabatan yang abadi. Mungkinkah.. Mungkinkah ini beban jiwa itu??

“Jika kamu merasa kesepian dan ditinggalkan, cobalah tengok ke dalam hatimu apakah pintunya sudah benar-benar terbuka bagi sesamamu -akan terlalu sempit jika diartikan sebagai calon pacar, haha- yang ingin mengenal kamu, mungkin selama ini kamu tidak kesepian bahkan ditinggalkan tetapi pintumu dikunci dari dalam dan kamu membuang kuncinya.”

Inikah masalahnya??

Dulu ada yang berkata bahwa saya kadang terlalu asik dengan dunia saya sendiri. Mungkin ada benarnya…

“Kalau kamu merasa hidupmu berantakan, mungkin sesaat kamu perlu menyendiri untuk merenungkan apa yang menjadi kegundahanmu hingga kamu tidak mampu menata langkahmu sendiri. Temukan kendala-kendalanya, lalu susun apa yang ingi kamu lakukan untuk memperbaikinya. Ingat, lakukan sekarang juga!”

Namun, apa yang harus saya lakukan? Hanya ada beberapa spekulasi, tapi semoga semua itu membantu.

Saya harus mulai masuk kuliah kembali. Kembali berinteraksi dengan teman – teman khususnya dengan orang – orang yang saya pikir telah meninggalkan saya. Mungkin bukan mereka yang meninggalkan saya, tapi sayalah yang meninggalkan mereka.

Jangan berorientasi lebih dari suatu pertemanan. Jalinlah hubungan dengan siapapun hanya atas dasar pertemanan. Tidak usah mengincar sesuatu yang mungkin memang belum saatnya untuk saya rasakan. Sharingkanlah semua masalah dengan orang baru ini. Semoga pencerahan saya dapatkan darinya.

Mungkin kalimat kuncinya adalah setidaknya rasa memiliki seorang teman yang dapat saling berbagi suka duka kembali dapat saya rasakan.

Tapi satu hal masih menjadi misteri hidup bagi saya; bagaimana cara untuk seorang introvert seperti saya ini segera dapat merasakan pertemanan yang menenangkan di kala kegundahan jiwa yang telah sampai di ubun – ubun ini membutuhkan keinstanan untuk diluapkan.

Suatu pertanyaan besar yang hingga sekarang belum hendak dijawab olehnya. :)

Reviews:

Post a Comment

Belajar Berefleksi Kembali © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com | Published By Gooyaabi Templates

Contact us

Powered by Blogger.